DIBALIK KEINDAHAN TEMPURSARI;
TERSIMPAN POTENSI BENCANA MEMBAHAYAKAN
Siapa yang tidak takjub dengan pemandangan yang ada di Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang. Setiap orang baru yang datang kesana, pasti mereka takjub melihat pemandangan alamnya. Mulai dari jalan yang akan dilewati, baik jalur lintas selatan dari kecamatan pasirian maupun dari kecamatan pronojiwo sampai dengan berbagai tempat wisatanya.
Dari kecamatan pasirian, orang yang berkunjung kesana akan melewati hutan, tebing, curah dan pantai. Diantaranya Pantai Tlepuk dan Pantai Watu Godeg, yang tiap tahun digunakan untuk grasstrack. Sedangkan dari kecamatan pronojiwo, juga akan melewati tebing, curah serta perkebunan serta jembatan sungai aliran lahar semeru, yakni kali glidik.
Kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Malang dari sebelah barat ini, juga banyak tersimpan berbagai objek wisata, seperti Pemandian Umbulsari yang terletak di desa Purorejo, 2 km dari kota kecamatan Tempursari. Dengan pemandangan yang cukup bagus dan latar belakang pohon-pohon yang sangat besar, sumber mata air yang bisa di manfaatkan untuk kebutuhan minum masyarakat tempursari dan sekitarnya.
Hampir semua desa atau bahkan semuanya berbatasan langsung dengan kali glidik. Ungkap Pak Imron, salah satu tokoh masyarakat Tempursari. Sungai yang merupakan sungai aliran lahar gunung semeru ini, terlihat indah pada satu sisi, namun mempunyai potensi bahaya yang besar disisi lain.
Ketika saya meninjau lokasi sungai di desa Tegalbanteng, memang keindangan sungai ini terlihat dengan luasnya hamparan pasir atau area sungai yang cukup luas dengan batasan tebing-tebing dan pepohonan. Kali glidik ini terdari lima sungai yang bertemu jadi satu hilir menuju pantai selatan.
Dibalik semua keindahan itu, tebing pembatas sungai tersebut cukup tinggi apabila didaki dari jalan atau pemukiman penduduk (+ 25-35 meter), namun sangat rendah apabila di ukur dari dasar sungai (+ 5-10 meter). Dengan demikian, apabila pada suatu waktu sungai tersebut banjir dengan ketinggian lebih dari 10 meter, dipastikan akan “numplek” air sungai tersebut ke rumah-rumah penduduk.
Dalam keadaaan bahaya tersebut, maka masyarakat Tempursari akan mengalami kesulitan untuk keluar daerah karena jalur transportasi yang cukup berat. Jangankan terjadi bencana seperti itu, ada orang sakit keras pun yang harus dirujuk ke rumah sakit terdekat, harus sabar dan berjuang melintasi salah satu dari kedua jalur menuju pasirian atau pronojiwo.
Untuk keluar lewat jalur selatan menuju pasirian, dibutuhkan waktu satu jam kurang lebih dengan medan yang sangat berat. Belum lagi dengan kondisi jalan yang rusak sampai sekarang (10/09/2011). Sehingga hanya bisa dilewati dengan kendaraan roda dua saja.
Sedangkan untuk keluar dari sisi barat menuju pronojiwo, malah lebih lama lagi, karena harus melewati jalan yang berlika-liku dengan kondisi aspal jalan banyak yang rusak. Belum lagi pertimbangan apabila juga terjadi longsor pada titik tertentu di sepanjang jalan tersebut.
Hal ini perlu pemikiran dan kerja keras bersama antara masyarakat dan pemerintah dalam upaya mengurangi resiko bencana di Kecamatan Tempursari pada khususnya dan Kabupaten Lumajang pada umumnya. Mutlak dibutuhkan Peraturan Daerah yang mengatur khusus tentang Penanggulangan Bencana (Hasil Kajian Survey dan Lokakarya Penilaian Kebutuhan Masyarakat terhadap Peraturan Daerah tentang Penanggulangan bencana, 21/09/2011).
Mudah-mudahan bencana seperti yang kita bahas diatas tidak terjadi dan menimpa kita. Dengan harapan juga tetap ada upaya yang serius antara pemerintah dan masyarakat dalam mengurangi resiko dan ancaman bencana secara bersama-sama.
(Anee Achmad Al-Lumajangi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar