Kamis, 13 Oktober 2011

Catatan Perjalanan Survey Pendapat Masyarakat di Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang


DIBALIK KEINDAHAN TEMPURSARI;
TERSIMPAN POTENSI BENCANA MEMBAHAYAKAN
Oleh : Anee Achmad Al-Lumajangi
Siapa yang tidak takjub dengan pemandangan yang ada di Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang. Setiap orang baru yang datang kesana, pasti mereka takjub melihat pemandangan alamnya. Mulai dari jalan yang akan dilewati, baik jalur lintas selatan dari kecamatan pasirian maupun dari kecamatan pronojiwo sampai dengan berbagai tempat wisatanya.

Dari kecamatan pasirian, orang yang berkunjung kesana akan melewati hutan, tebing, curah dan pantai. Diantaranya Pantai Tlepuk dan Pantai Watu Godeg, yang tiap tahun digunakan untuk grasstrack. Sedangkan dari kecamatan pronojiwo, juga akan melewati tebing, curah serta perkebunan serta jembatan sungai aliran lahar semeru, yakni kali glidik.

Kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Malang dari sebelah barat ini, juga banyak tersimpan berbagai objek wisata, seperti Pemandian Umbulsari yang terletak di desa Purorejo, 2 km dari kota kecamatan Tempursari. Dengan pemandangan yang cukup bagus dan latar belakang pohon-pohon yang sangat besar, sumber mata air yang bisa di manfaatkan untuk kebutuhan minum masyarakat tempursari dan sekitarnya.

Hampir semua desa atau bahkan semuanya berbatasan langsung dengan kali glidik. Ungkap Pak Imron, salah satu tokoh masyarakat Tempursari. Sungai yang merupakan sungai aliran lahar gunung semeru ini, terlihat indah pada satu sisi, namun mempunyai potensi bahaya yang besar disisi lain.

Ketika saya meninjau lokasi sungai di desa Tegalbanteng, memang keindangan sungai ini terlihat dengan luasnya hamparan pasir atau area sungai yang cukup luas dengan batasan tebing-tebing dan pepohonan. Kali glidik ini terdari lima sungai yang bertemu jadi satu hilir menuju pantai selatan.

Dibalik semua keindahan itu, tebing pembatas sungai tersebut cukup tinggi apabila didaki dari jalan atau pemukiman penduduk (+ 25-35 meter), namun sangat rendah apabila di ukur dari dasar sungai (+ 5-10 meter). Dengan demikian, apabila pada suatu waktu sungai tersebut banjir dengan ketinggian lebih dari 10 meter, dipastikan akan “numplek” air sungai tersebut ke rumah-rumah penduduk.

Dalam keadaaan bahaya tersebut, maka masyarakat Tempursari akan mengalami kesulitan untuk keluar daerah karena jalur transportasi yang cukup berat. Jangankan terjadi bencana seperti itu, ada orang sakit keras pun yang harus dirujuk ke rumah sakit terdekat, harus sabar dan berjuang melintasi salah satu dari kedua jalur menuju pasirian atau pronojiwo.

Untuk keluar lewat jalur selatan menuju pasirian, dibutuhkan waktu satu jam kurang lebih dengan medan yang sangat berat. Belum lagi dengan kondisi jalan yang rusak sampai sekarang (10/09/2011). Sehingga hanya bisa dilewati dengan kendaraan roda dua saja.

Sedangkan untuk keluar dari sisi barat menuju pronojiwo, malah lebih lama lagi, karena harus melewati jalan yang berlika-liku dengan kondisi aspal jalan banyak yang rusak. Belum lagi pertimbangan apabila juga terjadi longsor pada titik tertentu di sepanjang jalan tersebut.

Hal ini perlu pemikiran dan kerja keras bersama antara masyarakat dan pemerintah dalam upaya mengurangi resiko bencana di Kecamatan Tempursari pada khususnya dan Kabupaten Lumajang pada umumnya. Mutlak dibutuhkan Peraturan Daerah yang mengatur khusus tentang Penanggulangan Bencana (Hasil Kajian Survey dan Lokakarya Penilaian Kebutuhan Masyarakat terhadap Peraturan Daerah tentang Penanggulangan bencana, 21/09/2011).

Mudah-mudahan bencana seperti yang kita bahas diatas tidak terjadi dan menimpa kita. Dengan harapan juga tetap ada upaya yang serius antara pemerintah dan masyarakat dalam mengurangi resiko dan ancaman bencana secara bersama-sama.

(Anee Achmad Al-Lumajangi)

Senin, 10 Oktober 2011

BHAKTI SOSIAL DAN DONOR DARAH LPKNU LUMAJANG


Lumajang, 28/09/2011
Masih dalam rangkaian Harlah NU ke-85, PW NU Jawa Timur menginstruksikan seluruh PCNU Lumajang untuk melaksanakan Bhakti Sosial dan Donor Darah diseluruh Cabang NU se Jawa Timur.
Dalam menyambut intruksi tersebut, PCNU Lumajang melalui Lembaga Pelayanan Kesehatan (LPK) NU Lumajang melaksanakan Donor Darah (28/09) di Aula Gedung NU Lumajang. Kegiatan yang dimaksudkan untuk bhakti sosial ini diikuti oleh 30 pendonor dari 5O-an orang yang hadir, terdiri dari pengurus NU, Badan Otonom serta pelajar terdekat di lingkungan kantor PCNU Lumajang.
Kegiatan ini dilaksanakan selama setengah hari ini dengan bekerjasama dengan PMI Cabang Lumajang. Hadir juga dalam kegiatan tersebut H. Maksum Madyari selaku Sekretaris PCNU, Imam Baidhowi dan M. Sya’roni, Pengurus LPK NU Lumajang serta 5 orang tenaga Medis dari PMI.
Menurut M. Sya’roni yang juga sekretaris LPK NU, kegiatan ini sebenarnya bukan program murni LPKNU Lumajang, namun dilakukan dalam rangka Bhakti Sosial dan Donor Darah yang dilakukan PCNU se Jawa Timur. Dan kebetulan kami (LPKNU, red) sebagai leading sektor program ini, sudah menjadi tugas dan tanggungjawab kami.
Ketika ditanya soal program kerja LPKNU Lumajang, Sya’roni mengungkapkan, bahwa dengan kepengurusan hasil resufle yang baru jalan ini, Alhamdulillah cukup banyak program yang sudah dan akan dilakukan. Diantaranya yang menjadi icon LPKNU Lumajang adalah Khitan Masal yang telah dilaksanakan pada bulan Maret 2011 kemarin di desa Sumbersari kecamatan Rowokangkung.
Adapun kedepan, insya Allah akan dilaksanakan program Pendampingan Pondok Pesantren dalam bidang kesehatan dengan mengambil pilot project pesantren di wilayah Kecamatan Tekung dan akan dilakukan rutin setiap minggu sekali. Lanjutnya. (Achmad S.)


Istighotsah dalam Rangka Halal Bi Halal NU Kecamatan Tempeh


Lumajang, 25/09/2011
Masih dalam suasana Idul Fitri 1432 H, MWC NU beserta Badan Otonom NU Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang menyelenggarakan Halal bi Halal Keluarga Besar NU Kecamatan Tempeh.

Acara yang diselenggarakan oleh MWCNU bersama Muslimat, Ansor, Fatayat, IPNU dan IPPNU ini dikemas dalam bentuk Istighotsah dan Pelantikan Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Tempeh Masa Khitmat 2011-2014 dengan tema ”Lindungi Ummat, Selamatkan NKRI, Mundur Satu Langkah adalah Penghianatan”.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Bapak As’ad Malik Wakil Bupati Lumajang, Achmad Qusyairi Katib Syuriah PCNU Lumajang, H. Abdul Qodir Asy’ari Wakil Ketua PC GP Ansor Lumajang, Agus Priyono Camat Tempeh, Asrorudin Kepala KUA Tempeh. KH. Hamdani Syuriah NU Tempeh, H. Sulaiman Ketua Tanfidziyah NU Tempeh, serta seluruh Pimpinan Badan Otonom baik Cabang maaupun anak cabang dan ranting.

Istighotsah yang dipimpin oleh KH. Hamdani tersebut berjalan dengan khusuk dan hikmat meski dilaksanakan pada siang hari. Tak kurang dari 500 orang warga nahdliyin hadir di Kantor MWC NU tempeh yang dijadikan sebagai tempat acara tersebut.

Kegiatan ini selain dalam rangka silaturrahim dan halal bi halal keluarga besar NU Tempeh, juga sebagai upaya dalam melindungi Ummat dan NKRI dari ancaman bahaya radikalisme agama dan disintegrasi bangsa, Ungkap H. Sulaiman dalam sambutannya.

Sedangkan As’ad Malik yang hadir sebagai penceramah dalam acara tersebut, mengungkapkan pentingnya saling memaafkan diantara sesama, serta untuk menjaga diri dan organisasi dari sifat iri dengki.

Sama halnya dengan Achmad Qusyairi, juga menegaskan akan pentingnya menjaga hawa nafsu, karena kita telah lulus dari perang kecil pada bulan Ramadhan kemarin, dan menuju perang besar pada bulan syawal ini sampai 10 bulan kedepan, yakni perang melawan hawa nafsu. (Achmad S.)

HALAL BI HALAL DAN PELANTIKAN RANTING ANSOR SE-KECAMATAN TEKUNG

Gerakan Pemuda Ansor merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya dan cita-cita Nadlatul Ulama untuk berkhidmat kepada perjuangan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini diwujudkan dengan menciptakan masyarakat yang demokratis, adil, makmur dan sejahtera berdasarkan islam Ahlussunnah wal jama’ah.


Hal inilah yang menjadi landasan bergerak PC GP Ansor Kabupaten Lumajang dan PAC GP Ansor Kecamatan Tekung dalam membina dan mengkader para generasi muda dengan melakukan pembentukan Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Se-Kecamatan Tekung pada Bulan Ramadhan kemarin.

Tanpa menunggu lama, dengan modal semangat militansi para pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Tekung, akhirnya Sabtu, 3 September 2011, bertepatan dengan 4 Syawal 1432 H, Pelantikan Ranting se Kecamatan Tekung dapat dilaksanakan di Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Darul Falah Desa Karangbendo Kecamatan Tekung Kabupaten Lumajang.

”Sebanyak 7 Ranting yang sudah terbentuk dan akan dilantik pada kesempatan ini, yakni Ranting Desa Karangbendo, Tukum, Tekung, Klampokarum, Wonokerto, Wonosari dan Wonogriyo”, Ungkap M. Farid Wazdi Ketua PAC GP Ansor Tekung. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua PC GP Ansor Kabupaten Lumajang A. Lukman Hakim beserta pengurus lain, yakni Sapari Wakil Ketua dan Achmad Salakhuddin Wakil Sekretaris.

Lukman menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada PAC GP Ansor Kecamatan Tekung beserta seluruh Ranting atas semangatnya yang luar biasa, ”baru satu bulan disosialisasikan dan dibentuk, bulan ini (syawal) sudah bisa melaksanakan pelantikan”. Dia juga menyampaikan agar seluruh pengurus yang baru terlantik tersebut, juga terus melakukan koordinasi dengan Ranting NU dan Kepala Desa setempat dalam melaksanakan pengabdiaannya di masyarakat.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut, H Narto Sekretaris Kecamatan, A. Hambali Ketua YPI Darul Falah Karangbendo, H. Aziz Irfan Ketua Tanfidziyah dan Ky. Abdul Aziz Rois Syuriah MWC NU. Dalam kesempatan tersebut, Ky. Abdul Aziz juga mengungkapkan agar Para pengurus Ansor untuk benar-benar menunjukkan pengabdiaannya di masyarakat.

Beliau mencontohkan kisah Sahabat Ustman ra. yang selalu mendukung Rosulullah dalam perjuangannya menegakkan ajaran Islam dengan seluruh harta bendanya, ”Begitupulah Ansor, saya berharap juga menunjukkan pengabdiannya kepada masyarakat baik berupa tenaga, pikiran maupun harta bendanya dengan tetap berpegang teguh pada ajaran islam ahlussunnah wal jamaah” Ungkapnya. (Achmad S.)

DIKLATAMA CBP-KKP; Menyiapkan Kader NU yang Disiplin dan Tangguh.


Lumajang (01/07/2011), Corp Brigade Pembangunan adalah lembaga semi otonom Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). CBP mempunyai mandat awal sebagai lembaga kedisiplinan, kepanduan dan sosial kemasyarakatan. Dalam sejarahnya, CBP terbentuk tahun 1964 dengan tujuan untuk terjun langsung dalam pembelaan negara dan pemberantasan komunis. Sama halnya dengan Korp Kepanduan Putri (KKP) yang terbentuk tahun 1965, semula bernama CBP-wati. Lembaga ini merupakan bagian dari Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) juga mempunyai tugas dan peran yang sama dengan CBP.

Dalam rangka meningkatkan Sumberdaya pelajar, remaja dan santri, DKC CBP-KKP Kabupaten Lumajang menyelengarakan Pendidikan dan Latihan Pertama (Diklatama) Selama tiga hari mulai tanggal 28-30 Juni 2011 ini bertempat di Lapangan Dusun Sukosari Desa Pundungsari Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang.

Muhammad Ridwan selaku ketua panitia menjelaskan, ”Kegiatan ini bertujuan untuk meneguhkan pemahaman islam ala Ahlussunah wal Jamaah serta membentuk kader yang disiplin, militan, kreatif dan berwawasan kebangsaan”.

Adapun peserta kegiatan ini sejumlah 60 orang yang terdiri dari utusan beberapa kecamatan, pesantren dan sekolah. Antara lain delegasi dari Sumbersuko, Sukodono, Yosowilangun, Ranuyoso serta pelajar dan santri se Kecamatan Tempursari, lanjut Ridwan.

Hadir juga dalam kegiatan ini DKW CBP Jawa Timur antara lain Ahmad Jazuli, Zaenal Muhlisin, Zaenal Abidin serta DKW KKP Jawa Timur, Fitrianingrum. Jazuli mengungkapkan, “Saya sangat bangga sekali dengan rekan-rekanita CBP-KKP Lumajang yang telah turut aktif dalam meningkatkan SDM dan Kedisiplinan kader. Saya juga berharap hasil dari kegiatan ini dapat membentuk kader tangguh yang peka terhadap masalah-masalah sosial, kemanusiaan dan kesadaran akan berbangsa, bernegara dan beragama, tegasnya.

Selain itu, hadir juga dalam kegiatan ini Utusan PCNU Kabupaten Lumajang Ustadz Hasan Bisri sebagai narasumber materi ke-NU-an dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Kodim 0821 Lumajang memberikan materi dan praktek Baris Berbaris dan kedisiplinan. Serta Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Lumajang memberikan Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja serta Bahaya Pergaulan bebas. (Achmad S.)

ISTIGHOTSAH KUBRO, Selamatkan Ideologi Ummat dari Radikalisme dan NII

Lumajang (16/6/2011) ; “… Istighotsah adalah Permohonan pertolongan agar dapat terlepas dari kesulitan-kesulitan (himpitan hidup). Istighotsah merupakan bagian dari do’a, hanya saja istighotsah adalah khusus permintaan disaat-saat seseorang dalam mengalami kesulitan (kesusahan) yang kemudian meminta pertolongan …”.

Pada momentum puncak hari lahir Nahdlatul Ulama yang ke-85 dalam hitungan masehi, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lumajang melalui Lembaga Pendidikan Maarif NU melaksanakan Pengajian dan Istigohtsah Kubro di Masjid Agung ”KH. Anas Machfudz” Lumajang, kamis, 16/6/2011.

Acara yang dilaksanakan dalam rangka mendo’akan kondisi keagamaan, kebangsaan dan kenegaraan masyarakat lumajang ini, dihadiri oleh ribuan kader NU dan simpatisan. Dalam acara tersebut, Ketua PW NU Jawa Timur KH. Hasan Mutawakkil Alallah yang juga pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong Probolinggo hadir dan memberikan taujihad wal irsyadad. Turut hadir juga KH. Amak Fahdoli, KH. Isma’il Shodiq, KH. Halimi Nasir, KH. Chidlir Fasa, KH. Imron Anis, KH. Mahrus Ali, Kh. Khozin Barizi dan ulama se-kabupaten Lumajang.

Menurut Mas’ud, ketua panitia, kegiatan ini dimaksudkan untuk memohon ampun dan berdo’a kepada Allah atas kondisi yang menimpa masyarakat indonesia pada umumnya dan lumajang pada khususnya. Selain itu, kegiatan yang mengusung tema ”Selamatkan Ideologi Ummat, dari Radikalisme dan NII ini, juga bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pencerahan akan maraknya Radikalisme Agama, aliran-aliran sesat dan gerakan makar terhadap NKRI, lanjutnya.

H. Fanandri ketua PCNU Lumajang, menegaskan bahwa untuk membentengi kader-kader Nahdlatul Ulama, kita terus melakukan upaya keras dan cerdas dalam mendidik anak-anak kita yang berada di sekolah, perguruan tinggi maupun pesantren. Kita juga terus melakukan pendataan anggota Masjid dibawah Lembaga Takmir Masjid NU dengan memberikan sertifikat keanggotaan masjid secara simbolis kepada lima masjid. Antara lain, Masjid Agung ”KH. Anas Machfudz” Lumajang, Masjid Nurul Falah Tompokersan, Masjid Al-Mustaqim Klakah, Masjid Besar Nurul Huda Pasirian dan Masjid Darul Huda Kraton Yosowilangun.

”Bukan hanya sandal, masjid dan musholla pun sekarang sering dicuri oleh orang lain”, ungkapnya.

KH. Hasan Mutawakkil selaku PWNU Jawa Timur, turut memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada PCNU Lumajang yang telah melaksanakan himbauan dari PBNU dan PWNU untuk melakukan pengabdian masyarakat dalam harlah NU. Tak lupa juga beliau mengamanatkan kepada seluruh ummat nahdliyin untuk terus menggerakkan dan melaksanakan tradisi-tradisi ke-NU-an, mulai dari Lailatul Ijtima’, Yasinan, Tahlilan, Diba’an, termasuk istighotsah pada saat ini, selain juga terus melakukan kajian-kajian, pembelajaran agama dan pengembangan intelektual para kadernya dan masyarakat luas.

Dalam kegiatan ini, tradisi kamis kliwon juga tetap terlihat dengan dilaksanakan Khotmil Qur’an sebelum dan sesudah istighotsah. Turut memeriahkan acara ini juga, penampilan grup Banjari dari tiga madrasah/sekolah dilingkungan Maarif NU antara lain, MTs/SMP Hasyim Asy’ari Labruk Kidul Sumbersuko, MTs/MA Miftahul Ulum Pulosari dan MTs/MA Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto. (Achmad S.)